Pengalaman Cultural Shock di lingkungan baru
Baiklah, pada artikel ini saya akan membicarakan mengenai cultural shock
yang saya alami pada saat saya mulai berkuliah di Depok. Sebelum saya bercerita
mengenai cultural shock saya, sebenarnya apa sih itu cultural shock.
Jadi cultural shock adalah istilah yang digunakan untuk menggambarkan
perasaan terkejut, gelisah, keliru yang
dirasakan apabila seseorang bersentuhan dengan kebudayaan yang berlainan,
seperti tempat baru. Perasaan ini timbul akibat adanya perbedaan dan kesukaran
dalam beradaptasi dengan budaya baru. Gegar budaya atau cultural shock dapat
mencakup aspek yang ada di kehidupan sehari-hari seperti makanan, cara
berpakaian, dll.
Cultural shock ini saya alami pada saat saya mulai menetap di Depok
untuk melanjutkan Pendidikan. Hal yang sangat membuat saya sedikit gelisah
hingga menjadi sedikit berbicara adalah perihal Bahasa. Dimana saya yang berasal
dari Riau harus beradaptasi dengan Bahasa di Depok itu sendiri.
Sebenarnya Bahasa bisa dibilang adahal
hal sepele dikarenakan saya berbicara menggunakan bahsa Indonesia dan teman-teman
saya berbahasa Indonesia pula. Tapi yang membuat saya gelisah adalah disaat
saya mengatakan suatu kalimat terkadang teman saya atau lawan bicara saya sedikit
sulit untuk mengerti saya. Di saat itulah saya harus mempelajari apa kata kata
yang sebenarnya hanya daerah saya saja.
Ditambah terkadang teman-teman saya suka bercanda dengan Bahasa yang
saya gunakan. Ini yang saya malah semakin minder, sudah saya susah mencari kata
teman saya malah mengolok saya. Tapi dengan berjalannya waktu saya sudah mulai speak up dan mencoba berbicara sebisa
mungkin dimengerti lawan bicara, walau terkadang suka mengatakan kata kata
yabng hanya saya saja yang mengerti hehehe.
Itu adalah peristiwa cultural shock saya pada lingkungan kampus, saya
mendengar mungkin dari teman yang lain dia merasa sedikit gelisah dengan teman-teman
yang bisa dibilang beragam etnis, tapi terhadap saya itu adalah hal yang wajar.
Dan ada juga yang merasa bahwa budaya pada kuliah yang beda dari SMA. Cara belajar,
tepat waktu dan yang lainnya. Saya tidak merasa kesulitan dikarenakan di SMA
saya sebelumnya kurang lebih sistemnya hamper sama denganyang saya alami di
perkuliahan.
Selanjutnya saya akan menceritakan pengalaman gegar budaya saya dalam
lingkungan umum. Hampir sama dengan di lingkungan kampus, Bahasa adalah hal
yang membuat saya kaget, gelisah, dan serba salah. Saya menetap di kos dimana
warga sekitar menggunakan Bahasa yang sangat berbeda ddengan saya.
Hal yang membuat saya meluangkan waktu belajar adalah Bahasa untuk mata
uang di lingkungan baru saya. Seperti gopek, goceng, ceban dan yang lainnya. Dikarenakan,
setiap saya jajan untuk membeli suatu barang, si penjual atau yang jaga warung
selalu mengatakan Bahasa-bahasa tersebut untuk menyebutkan mata uang. Saya selalu
saja terdiam dan meminta tolong menggunakan Bahasa yang lebih dimengerti. Biasa,
saya adalah anak rantau.
Hal lain yang membuat saya gegar budaya adalah transportasi. Seperti transjakarta,
KRL, gojek/grab yang sama sekali tidak
ada di daerah saya saat itu. Beberapa teman saya dari daerah yang sama, yang
menetap dan melanjutkan Pendidikan di sekitaran jabodetabek. Ada yang hingga 6
bulanpun dia tidak berani menggunakan KRL dikarenakan takut salah atau tersesat
atau terjadi hal yang tidak dia inginkan
pada saat menggunakan KRL. Sebegitulah efek cultural shock itu sendiri terhadap
suatu individu. Saya sebagai orang yang ingin beradaptasi pasti mencoba dan
mempelajarinya.
Hal yang berkaitan dengan tranportasi pastinya adalah jalan atau
perjalanan disaat mengendarai transportasi itu sendiri. Dimana yang kita tahu
bahwa jabodetabek dimana saja macet. Di daerah saya yang tidak seramai depok sangat
jarang terjadi macet. Tetapi di depok, dimana saja bisa terjadi macet. inilah
yang membuat saya awalnya merasa sedikit tertekan takut terlambat dan lain
lainnya. , tapi dengan seiring berjalannya waktu saya belajar mengatur waktu
yang tepat untuk berpergian ke suatu tempat supaya tidak terlambat.
Sekian saja pengalaman yang bisa saya bagikan kepada pembaca mengenai
saya yang mengalami gegar budaya di Depok, kota dimana saya melanjutkan jenjang
Pendidikan. Seidit tips untuk pembaca yang mengalami gegar budaya seperti saya.
Pertama, cari tahulah mengenai budaya yang ada di lingkungan tersebut. Dengan
cara ini, kita akan dapat lebih memahami perbedaan di negara baru dan
mentolerir perbedaan tersebut. Kedua, berpikir terbuka mengenai budaya yang
didatangi. Ketiga, beristirahat dari perbedaan budaya untuk mengurangi rasa
asing terhadap budaya baru
Sebagai penutup saya ingin menyampaikan bahwa keluarla dari zona nyaman.
Sanagt benar jika kita mencoba untuk berpindah ke tempat baru pasti kita akan
terkena yang namanya gegar budaya atau cultural shock. Inilah yang membuat kita
menjadi lebih tahu banyak hal tidak hanya di ruang lingkup yang itu itu saja.
Sumber:


Comments
Post a Comment